Lalang
Gelap menyapa tanpa suara,seonggok karung membuat pertanyaan penuh arti. Berteman malam yang semakin menusuk kulit ari. Mata berkeliling menebar pandang, mencari-cari yang mengganjal pikiran.
Sepi senyap. Cahaya putih menerobos anyaman bambu, memberikan bayang-bayang semu. Sedetik menerangi segala arah, temaram kembali sorak. Hanya sesaat, kembali tanpa ada yang merubah. Kain kusut melilit tubuh kian rapat.
"Ah.. kenapa aku sedari tadi kantuk tak kunjung pula datang." ucapnya sembari mengencangkan kain yang longgar pada tubuhnya.
Rasa yang tak dihiraukannya kini muncul dengan sendirinya. Bulu kuduknya berdiri, seiring derap langkah pelan dan mendekat.
Keheningan membuat indera pendengarannya semakin tajam. Dengusan nafas ketakutan menggugah nyalinya ciut. Tak lama, langkah kaki cepat dan kasar telah mengikutinya.
"Mau ke mana lo bangsat!" Umpatan itu mengajak otaknya berpikir tentang apa yang terjadi.
"Ampun.. ampun.. ampun. Jangan bunuh saya. Tolong.. ampuni saya. Saya ga tau apa-apa. Kumohon!!"
"...."
Cahaya putih itu kembali, membuat penglihatanya tak mampu terpejam. Ditutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Bayangan dari balik bilik menunjukan tontonan yang jiwanya runtuh.
.....
"Andrea..andrea. kamu dimana?" Suara tua mengagetkannya.
Comments
Post a Comment